Barat Seharusnya Berhutang Budi Pada Ilmuan Muslim

sains alquran

Para pelancong dari Eropa datang mengunjungi berbagai perpusatakaan dan toko-toko buku yang tersebar di pusat-pusat Islam pada masa kebesaran Islam di abad pertengahan. Mereka mendapatkan buku dari perpustakaan tersebut, kemudian menterjemahkannya ke dalam Bahasa Latin. Menurut catatan Danielle Jacquart (1996), di bidang kedokteran saja mereka mengambil lebih dari 40 buku utama yang mereka terjemahkan ke dalam Bahasa Latin, dan memiliki pengaruh signifikan bagi kemajuan kedokteran di Eropa sampai munculnya kebangkitan Eropa pada Abad ke-14. Mereka melapalkan nama-nama penulis Arab dalam Bahasa Latin, atau bahkan mengubahnya menjadi nama samaran. Hal ini dimungkinkan karena dalam Islam tidak adanya hak cipta. Untuk lebih jelasnya mengenai nama-nama penulis/peneliti Arab, penterjemah, dan penulis yang dilapalkan dalam Bahasa Latin disajikan pada Tabel 1.

Mengacu pada Tabel 1. tersebut, Hunayn Ibnu Ishaq dalam Bahasa Latin disebut Constantinus Africanus, Iohannitius, dan Hunen. Ali Ibn Abbas Al-Majusi disebut dengan dua nama, yakni: Constantinus Africanus dan Haly Abbas. Qusta Ibn Luqo disebut Costa Ben Luca dan Contabulus. Nama kembar juga dialamatkan kepada Al-Zahrawi dan Ibn Butlan. Al-Zahrawi disebut dengan nama Albucasis dan Alcoati. Sedangkan Ibn Butlan disebut Ibn Botlan dan Elluchasem Elimithar. Selain itu, nama-nama Latin yang disebutkan dalam terjemahan sangat jauh dari ungkapan Bahasa Arab. Menurut Jacquart (1996), hanya ada tiga nama Latin yang mirip ungkapan Arab. Ishaq Ibn Sulayman Al-Israeli disebut Isaac Israeli; Ibn Butlan disebut Ibnu Botlan; dan Al-Kindi dengan Jacob Al-Kindi. Selain itu, nama Constantinus Africanus dipergunakan untuk Ishaq Ibn Imran dan Ibn Al-Jazzar.

Pengkaburan nama-nama penulis dan peneliti Arab dalam Bahasa Latin tesebut, menurut Jacquart, dimaksudkan untuk menghilangkan peran Arab (Islam) bagi pengembangan ilmu di Eropa. Mereka ingin mengesankan bahwa Eropa menerima ilmu pengetahuan bukan dari Arab melainkan dari Yunani. Selanjutnya Jacquart menegaskan:

“… Para penterjemah tidak segan untuk memperkenalkan bahwa karya ilmiah yang mereka terjemahkan ke dalam Bahasa Latin merupakan karyanya sendiri, dengan maksud untuk mengesankan bahwa karya-karya tersebut merupakan penemuan kembali ilmu-ilmu Yunani, di mana para penterjemah adalah sebagai koordinator bagi penemuan tersebut” (Jacquart, 1996: 964).

 

Tabel 1. Nama-Nama Penterjemah, Penulis Arab dan Pengucapannya

dalam Bahasa Latin

 

Penulis/Peneliti Arab Nama Penulis/Peneliti Arab dalam Ucapan Latin
Hunayn Ibn Ishaq dan Hubayshi Iohannitius
Ishaq Ibn Sulayman Al-Israeli Isaac Israeli
Hunayn Ibn Ishaq Constantinus Africanus
Iohannitius
Hunen
Ali Ibn Abbas Al-Majusi Constantinus Africanus
Haly Abbas
Ishaq Ibn Imran Constantinus Africanus
Ibn Al-Jazzar Constantinus Africanus
Yuhanna Ibn Masawayh Iohannitius Damasceni
Qusta Ibn Luqo Costa Ben Luca
Contabulus
Ali Ibn Ridwan Haly Rodohan
Yuhana Ibn Sarabiyun Serapio
Al-KIndi Jacob Al-Kindi
Al-Razi Rasis
Al-Zahrawi Albucasis
Alcoati
Ibn Wafid Abenguefit
Ali Ibn Isa Jesu Haly
Abu Al-Salt Albuzali
Ibn Zuhr Avenzoar
Ibn Butlan Ibn Botlan
Elluchasem Elimithar

Sumber: Diolah dari  Danielle Jacquart, 1996: 981-982.

 

Padahal, menurut Jacquart, karya-karya terjemahan di bidang kedokteran tersebut, menjadi bahan bagi pendirian Universitas di Paris tahun 1187 setelah meninggalnya Gerard of Cremona – salah seorang perterjemah utama buku-buku kedokteran Arab; atau satu Abad setelah meninggalnya Constantine The African – penterjemah karya kedokteran Arab lainnya. Selanjutnya, dengan bekal buku-buku kedokteran Arab tersebut, pada pertengahan Abad ke-13 di Paris telah berdiri tiga fakultas kedokteran yang besar. Buku-buku hasil terjemahan Toledo dan Constantine merupakan buku utama dan menjadi titik poin bagi pembelajaran kedokteran pada fakultas tersebut.

Penterjemahan sains Islam tersebut bukan hanya dalam bidang kedokteran, melainkan dalam bidang-bidang lain, seperti kimia dan astronomi. Karena itu, dukungan penguasa bagi pengembangan sains yang ditopang oleh dana wakaf kaum muslimin bukan hanya bermanfaat bagi orang-orang Islam melainkan berpengaruh signifikan bagi kebangkitan Eropa pada Abad ke-14. Karena itu, Islam benar-benar telah menjadi rahmat bagi seluruh alam; dan Eropa seharusnya berhutang budi pada para ilmuan muslim.***

 

Reference:

Jacquart, Danielle. 1996. “The influence of Arabic medicine in the medieval West,” in Roshdi Rashed (ed.), Encyclopedia of The History of Arabic Science. Routledge, London and New York

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *