Ibnu Sina: Multi Keahlian Atas Dorongan Rasa Syukur Kepada Allah

ibnu sina

Ibnu Sina terkenal sebagai seorang ilmuan polymath (multi keahlian). Di samping seorang dokter yang sangat terkenal di Barat maupun di belahan dunia Timur, ia adalah seorang teolog dan filsuf, dan juga seorang ahli fisika yang memahami ilmu-ilmu kesislaman secara mendalam. Keberhasilannya menjadi seorang ilmuan kelas dunia ternayata karena dorongan rasa bersyukur kepada Allah yang telah mengkaruniakan akal dan kecerdasan.

Ibnu Sina lahir pada tahun 370 H/ 980 M di desa Afsana, yaitu sebuah desa dekat Bukhara dengan nama lengkap Abu al-Ali Hussein bin Abdullah bin al-Hasan bin Ali bin Sina. Ibnu Sina atau lebih dikenal di Barat dengan Avicenna merupakan seorang filsuf, ilmuwan, dan dokter di abad ke10. Ayahnya bernama Abdullah dan ibunya bernama Setareh. Latar belakang orang tuanya cukup terhormat, yaitu pejabat tinggi pada masa pemerintahan Dinasti Saman, sehingga dapat memberi ruang gerak lebih bagi Ibnu Sina untuk mempelajari banyak hal (Rifai Shodiq Fathoni, 2019).

Masa kecil Ibnu Sina

Ibnu Sina telah menunjukkan bakat luar biasa sejak ia masih kecil. Pada usia lima tahun, dia belajar membaca Alquran. Selain mengaji, ia juga mempelajari ajaran agama. Kecerdasan Ibnu Sina memang sangat menonjol, sehingga seorang guru menasihati ayahnya untuk tidak bekerja kecuali untuk belajar dan memperoleh pengetahuan (Nurdyansa, 2017).

Masa remaja Ibnu Sina

Ibnu Sina mempelajari ilmu kedokteran sekitar usia 16 tahun. Ia bukan hanya belajar tentang teori kedokteran, tetapi juga langsung turun tangan melayani orang sakit dan melalui kemampuan berfikirnya yang sangat cerdas, ia juga menemukan metode-metode pengobatan baru. Kemudian pada usia 18 tahun Ibnu Sina memenangkan gelar fisikawan. Tidak hanya itu, ia juga mempelajari beberapa hal dan menjelaskan ayat-ayat Alquran.

Ibnu Sina juga merupakan seorang ahli filsafat. Pandangan-pandangan filosofisnya cukup terkenal dan berpengaruh pada masanya. Dia mempelajari dan menjelaskan banyak ayat Alquran untuk mendukung pandangan filosofisnya tersebut. Pada usia 22 tahun, ayahnya wafat. Sejak masa ini ia mulai berkelana, bertemu dengan para sastrawan dan ulama untuk mencari ilmu baru dan juga menyebarkan ilmu yang ia miliki. Ibnu Sina merupakan orang yang sangat produktif. Ia banyak menulis tentang banyak hal, namun sebagian besar dari karya-karyanya adalah tentang filsafat dan teori kedokteran. Karyanya yang paling terkenal adalah Qanun fi al-Tibb (The Canon of Medicine) yang memiliki peran besar untuk pengembangan ilmu medis saat itu dan menjadi cikal bakal pengobatan modern seperti sekarang ini.

Ibnu Sina juga berperan penting dalam perkembangan berbagai bidang keilmuan. Dia menerjemahkan karya Aqlides dan menjalankan observatorium astrologi. Ibnu Sina meneliti tentang ruang hampa, cahaya, dan panas dan menyumbangkan hasil penelitiannya itu ke ilmu pengetahuan dunia.

Saat usianya 35 tahun ia mengajar di Jurjan, kemudian berpindah ke Hamadan (sampai 44 tahun) yang saat itu dipimpin oleh Raja Syamsuddaulah. Ia kemudian dianggkat menjadi menteri karena berhasil menyembuhkan penyakit sang raja.

Ibnu Sina sempat ditangkap militer dan disita harta bendanya, dan berencana untuk membunuhnya, tetapi Syamsuddaulah melarang dan mengusirnya dari penjara. Kemudian raja menderita sakit perut (maag) dan Ibnu Sina berhasil menyembuhkannya, sehingga Ibnu Sina diangkat menjadi menteri untuk yang kedua kalinya (Agung Sasongko, 2019).

Sisa hidup Ibnu Sina

Disisa hidupnya ibnu Sina menghabiskan waktunya untuk urusan negara dan menulis. Beliau mengalami sakit pada bagian perut nya (usus besar) yang tidak dapat disembuhkan. Ibnu Sina wafat pada bulan Ramadhan di usia 58 tahun (428 H / 1037M) dan dimakamkan di Hamadan, Iran. Ia meninggal dunia setelah dia berkontribusi banyak pada khazanah ilmiah umat manusia, dan namanya akan selamanya diingat, terutama di bidang kedokteran (Nurdyansa, 2017).

 Pendidikan Ibnu Sina

Ibnu sina dalam menempuh pendidikannya berada dibawah tanggung jawab seorang guru. Berdasarkan sumber sejarah, ibnu sina mempelajari ilmu akhlak, tasawuf, dan fiqih dibawah naungan Ismail al-Zahid. Ibnu Sina juga mempelajari bidang logika dan matematika dengan seorang guru bernama Abu ‘Abdullah al-Natalie (Husain Hariyanto, 2011). Kemudian beliaupun memperdalam ilmu kedokteran yang hanya ia tempuh dalam kurun waktu satu setengah tahun bersama gurunya Isa Bin Yahya (Husain Hariyanto, 2011).

Ibnu sina mulai menempuh pendidikan saat berusia 5 tahun (Muhammad Nur Effendi,1997).  Dengan kecerdasannya, ia berhasil menghafal al-Qur’an dan juga sebagian Sastra Arab pada saat ia berusia 10 tahun. Selain diajarkan oleh seorang guru, Ibnu Sina juga secara otodidak mempelajari hal-hal yang ingin ia ketahui. Seperti mempelajari aritmatika dari tukang sayur, belajar dari seorang perawat yang sedang melakukan pekerjaannya, serta mempelajari ilmu fisika dan ketuhanan yang membuatnya menjadi terkenal akan kepiawaiannya dalam bidang tersebut (Saharawati Mahmouddin, 2011).

Walaupun Ibnu Sina memiliki kecerdasan dan daya ingat yang baik, terkadang ia pun mengalami kesulitan untuk menghafal. Seperti untuk mempelajari ilmu pengetahuan, metafisika-aristoteles, ia telah membacanya sebanyak 40 kali namun kesulitan untuk memahaminya. Maka dari itu, ia terus berusaha dan berkonsentrasi selama satu setengah tahun yang akhirnya ia mendapatkan kejelasan ilmu pengetahuan yang baru setelah membaca buku karangan Al-Farabi berjudul On the Intentions of The MetaPhysic. Pada saat berusia 16 tahun, Ibnu Sina mempelajari ilmu kedokteran serta mempraktikannya dalam kehidupan sehari-hari. Ia mampu mengobati orang-orang sakit sehingga membuat Ibnu Sina menjadi terkenal. Seorang penulis biografi terbesar, Ibnu Khaliqan, mengatakan bahwa Ibnu Sina mendapatkan banyak perhatian dari para dokter dan hakim yang ada pada masanya (M. Atiqul Haque, 2007).

Ibnu sina menjadi seorang dokter saat menginjak usia 17 tahun. Pada saat itu terdapat seorang penguasa daerah Bukhara bernama Nur bin Mansur yang memiliki penyakit keras dan belum ada dokter yang bisa mengobatinya. Namun, pada saat Ibnu Sina mencoba untuk mengobatinya, penguasa tersebut sembuh. Sejak saat itulah, Ibnu Sina diangkat menjadi seorang dokter istana sultan .Nur bin Mansur, Raja Bukhara memiliki peran yang penting dalam perkembangan keilmuan dalam diri Ibnu Sina, berkat kemampuan Ibnu Sina dalam mengobati penyakit, Ibnu Sina diberi hadiah berupa akses ke perpustakaan istana (Poerwanta, 1994).

Menginjak usia 18 tahun Ibnu Sina telah menguasai berbagai macam ilmu pengetahuan. Ia membantu tugas-tugas Amir Nuh ibn Manshur karena mengikuti kiprah orang tuanya. Abu al-Husin Al-‘Arudi memintanya untuk menyusun kumpulan pemikiran filsafat, yaitu menyusun buku al-Majmu’. Abu Bakar al-Barqi al-Khawarizmi juga meminta Ibnu Sina untuk menulis buku al-Hasil wa al-Masu dan Al-Birr wa al-Ism. Saat menginjak usia 22 tahun, Ibnu Sina mendapatkan sebuah musibah. Ayahnya meninggal dunia, sehingga Ibnu Sina memutuskan untuk pindah ke Jurjan. Di Jurjan, Ibnu Sina mengajar dan mengarang hingga usianya 35 tahun, namun karena adanya kekacauan politik akhirnya ia pun pindah ke kota Hamadan (sampai usia 44 tahun). Di Kota Hamadan Ibnu Sina mampu mengobati Raja Syamsuddaulah sebanyak 2 kali. Hal tersebutlah yang membuat Ibnu Sina diangkat menjadi seorang menteri (Ahmad Daudy, 1992).

Banyak peristiwa baik suka maupun duka yang telah ia lewati. Pada bulan terakhir hayatnya, ia mengganti semua pakaiannya dengan pakaian putih dan memiliki keinginan untuk menghabiskan waktunya hanya untuk beribadah kepada Allah. Akhirnya, pada saat berusia 58 tahun, Ibnu Sina terserang penyakit usus besar yang membuatnya meninggal dunia di Hamadan, Persia pada 1037 M (Ahmad Daudy, 1992). Pada saat 1000 tahun kelahirannya atau tepat pada tahun 1955, dilangsungkan Konferensi International yang akan membangun sebuah monumen sejarah serta menobatkan Ibnu Sina sebagai Father of Doctors untuk selamanya (Husein Heriyanto, 2011).

Ibnu Sina sepanjang beliau mencari dan membagikan ilmu, beliau mendapat banyak keuntungan atau hadiah dari Allah SWT. melalui penguasa yang berhasil beliau tolong, diantaranya beliau diberikan akses khusus di perpustakaan istana oleh Raja Bukhara dan beliau juga diangkat menjadi menteri oleh Raja Syamsuddaulah karena berhasil menyembuhkannya (Ahmad Daudy, 1992).

 Keahlian Utama dan Keahlian Lainnya (Polymeth Ibnu Sina)

Ibnu Sina atau Avicena selain dikenal sebagai filsuf Islam, beliau juga kerap dikenal ssebagai ahli kedokteran, fisika, dan lain-lain. Berikut merupakan keahlian – keahlian yang dimiliki oleh Ibnu Sina:

1) Bidang Kedokteran (Keahlian utama)

Kontribusi Ibnu Sina dalam bidang ini sangat banyak, salah satunya ialah saat Ibnu Sina menyatakan secara tegas bahwa penyakit TBC pada paru-paru merupakan penyakit yang menular dan penyakit tersebut menular melalui air dan tanah. Ibnu Sina juga merupakan tokoh pertama yang dapat menemukan anatomi tubuh manusia secara terperinci. Dalam Al-Qanun fi al-Tibb dijelaskan mengenai anggota tubuh secara rinci (Laili Sahlah, 2015).

Avicenna juga merupakan tokoh ahli bedah. Beliau dapat melakukan praktik bedah yang sulit dilakukan bagi dokter-dokter lain, seperti mengatasi pembengkakkan pada kanker, melakukan pembedahan pada batang tenggorokan dan kelenjar tenggorokan, membuang bisul pada paru-paru. Beliau juga dapat mengatasi penyakit wasir dengan metode pengobatan mengikat. Temuan Ibnu Sina lainnya juga yaitu penyakit saraf (neurasthenia) yang merupakan penyakit ditemukan oleh beliau. Beliau menemukan solusi atau cara untuk dapat mengeluarkan penyakit tersebut dan memberi pelajaran cara-cara pembedahan dengan benar dan bagaimana cara mengobati luka dengan melakukan pembiusan (Bahron Ansori, 2014).

Avicenna juga merupakan tokoh yang ahli di bidang gigi. Beliau dapat menjelaskan secara terperinci menggunakan metodenya yang sangat bagus seputar lubang gigi. Ibnu Sina memberikan pendapat mengenai sistem imun yaitu menurutnya, proses masuknya penyakit tergantung kondisi tubuh kita, apakah sedang prima atau tidak. Jika tubuh sedang tidak prima maka mudah terkena virus dan penyakit serta tindakan pengobatan yang dilakukan pun kurang memberikan hasil (Raghib As-Sirjani, 2011).

 

2) Bidang Filsafat (Keahlian lainnya)

            Ibnu Sina terkenal dengan karya-karyanya dalam bidang kedokteran, tetapi ternyata jumlah buku filsafat yang beliau tulis lebih banyak dibanding jumlah buku tentnag kedokterannya. dengan gelarnya sebagai Bapak Kedokteran. Beliau banyak membuat buku tentang kedokteran. Beliau diberi gelar “asy-Syaikh ar-Rais” atau yang memilki arti Guru Para Raja karena Ibnu Sina memiliki pememahaman yang mendalam mengenai keagamaan. Pandangan yang mendalam inilah yang menjadi landasan kuat Ibnu Sina dalam bidang filsafat (Laili Sahlah, 2015).

Beberapa pemikiran filsafat Avicenna, yaitu:

  1. a) Filsafat Jiwa

Teori pemikiran yang penting ditemukan oleh beliau adalah filsafatnya mengenai jiwa. Pemikirannnya yang terperinci terhadap filsafat jiwa menimbulkan beliau mencapai pada suatu kesimpulan yaitu jiwa bersifat abadi, kekal, tidak bisa hancur. Berbanding terbalik dengan jasad manusia yang bisa hancur. Menurutnya dengan keabadian jiwa seperti inilah manusia bisa merasakan nikmatnya surga dan pedihnya neraka di akhirat nanti.             Sebagaimana para pemikir muslim lainnya yang berangkat dari AL-Quran, Pemikiran Ibnu Sina tentang filsafat jiwa ini sangat berhubungan dengan Al-Quran yaitu surat Al-Baqarah ayat 25 dan 39 (Harun Nasution, 2002).

 

  1. b) Filsafat Kenabian

Pada filsafat kenabian, tanggapan beliau bahwa beberapa manusia di berikan anugurah oleh Allah berupa akal yang potensial atau material yang begitu luar biasa, al-hads yang berarti daya luar biasa dan al-quwwah al-qudsiyyah yang berarti daya suci. Daya ini memiliki potensi sangat besar, sehingga tanpa adanya latihan pun, manusia bisa dengan mudah menerima kebenaran atau wahyu dari Tuhan (Seyyed Hossein Nasr, 2006). Kemudian daya suci yang merupakan potensial tertinggi yang bisa dicapai oleh manusia, yaitu para nabi dan rasul.

Ibnu Sina berpendapat yaitu nabi dan rasul berada di puncak keunggulan pada lingkup manusia melebihi para filsuf yang sering diagungkan sebagai orang paling bijaksana. Dengan keunggulannya ini, mereka wajib memimpin umat manusia lain yang diunggulinya.

 

  1. c) Filsafat Wujud

Dalam pandangannya, falsafah bertahan hidup adalah kualitas yang paling penting, bahkan hakikatnya sendiri lebih tinggi dari semua kualitas lainnya. Inti dari pemahaman Ibnu Sina adalah rasionalitas, dan bentuk berada di luar rasionalitas. Keberadaan setiap esensi yang dihasilkan oleh nalar adalah realitas di luar nalar. Tanpa bentuk, esensi itu sepele. Oleh karena itu, keberadaan lebih penting daripada esensi. Tak heran jika dikatakan bahwa Ibnu Sina telah menciptakan hakikat Wujidia atau eksistensialisme para filsuf lain (Taufik Abdullah, 2002).

 

3) Bidang Fisika (Keahlian lainnya)

            Dalam bidang fisika, penelitian Ibnu Sina bersifat teoritis. Menurutnya, ilmu fisika memiliki beberapa landasan dasar yang hanya diketahui dan pahami oleh orang-orang yang mempelajari ketuhanan. Dasar-dasar itu adalah:

 

  1. a) Maddah (Benda) dan Surah (Bentuk)

Menurut Ibnu Sina, alam ini terdiri dari amaddah/benda yang merupakan sebuah tempat. Dan surah/bentuk adalah sesuatu yang bertempat pada amaddah itu. Hubungan maddah dengan surah dapat diibaratkan hubungan perak dan patung (Laili Sahlah, 2015).

 

  1. b) Gerak dan Diam

Ibnu Sina berpendapat bahwa diam itu sesuatu yang tidak bergerak. Sedangkan gerak adalah keadaan dimana suatu benda pada arah tertentu itu terus berubah sedikit demi sedikit. Ibnu Sina menjelaskan bahwa setiap gerakan terjadi dalam suatu peristiwa dapat bertambah atau berkurang, namun atom tidak dalam keadaan seperti ini (gerakannya tidak dapat dikenali). Oleh karena itu, kejadian dan kehancuran benda/atom bukanlah gerakan, melainkan peristiwa satu kali. Dengan arti lain, gerakan adalah perpindahan dari satu tempat ke tempat lain. putih ke hitam dan naik turunnya bentuk juga disebut gerak (H.A. Mustofa, 1997).

Ibnu Sina juga mencoba menjelaskan bahwa benda yang bergerak dengan gaya tertentu memiliki kecepatan atau berat yang sesuai dengan kecenderungan alaminya. Dan jarak yang ditempuh benda dengan kecepatan konstan adalah searah. Terkait dengan pergerakan alam benda.  Gerakan alami suatu benda menurut beratnya. (Seyyed Hossein Nasr, 2006).

 

  1. c) Zaman

Definisi Ibnu Sina mengenai zaman itu bukanlah sesuatu yang tidak ada dan kemudian ada kembali, tetapi penciptaan itu bukan sebelum zaman, tetapi sebelum esensi. Zaman seringkali dikaitkan dengan suatu gerak, oleh karena itu, kecuali jika Anda juga membayangkan adanya gerakan, Anda tidak akan dapat membayangkan adanya suatu jaman, jika Anda tidak dapat merasakan gerakan tersebut, maka Anda tidak akan dapat merasakan jaman tersebut. Oleh karena itu, usia adalah tingkatan atau ukuran dari olah raga, maka usia tidak memprioritaskan lingkungan, juga tidak olah raga memprioritaskan lingkungan (H.A. Mustofa, 1997).

 

  1. d) Tempat, kekosongan, terbatas, dan tidak terbatas

Suatu tempat adalah sesuatu dengan sesuatu di dalamnya. Oleh karena itu posisinya meliputi benda, berisi benda, terpisah dari benda, mempunyai gerak dan sejajar (seimbang) dengan benda-benda tersebut. Dalam pandangan masalah kehampaan, Ibnu Sina tidak membela keberadaan kehampaan, karena ia menyangkal adanya batas (tingkatan) yang tak terbatas, atau bahwa ada bilangan atau asal yang tak berujung (Seyyed Hossein Nasr, 2006).

 

Temuan Utama dan Buku Karangan

            Sebagian besar karangan Ibnu Sina berhubungan dengan filsafat dan pengobatan. George Sarton berkata bahwa Ibn Sina adalah “ilmuwan paling terkenal dalam Islam, paling terkenal di segala bidang, wilayah, dan semua kelompok umur”. Dia adalah seorang filsuf dan doktor di dunia Barat, dan sains serta kehidupannya dapat ditiru oleh masyarakat cloud computing. Konon rata-rata ia bisa menulis 50 halaman per hari. Karya-karyanya tercipta di Bukhara saat Ibnu Sina berusia 21 tahun, kemudian di Ray Hamadan dan Iss Iss Isfahan terus berkarya (Jamil, Ahmad 2013).

Buku Al-Qifti Tarikh al-Hukama menjelaskan bahwa filsuf Islam Ibnu Sina memiliki 21 kitab dan 24 kitab kecil tentang kedokteran, filsafat dan sains. Selain itu, ia juga banyak menulis brosur tentang berbagai topik, seperti geometri, aritmatika, bahasa, musik, karam, dll (Laili, Sahlah 2015).

Di antara semua karyanya, beberapa di antaranya dianggap sebagai karya utama Ibnu Sina, karya-karya tersebut disumbangkan untuk umat manusia, antara lain:

1) Kitab Qanun fi al-Tibb (Canon of Medicine)

            Buku ini merupakan buku yang berfokus pada bidang kedokteran. Terbagi menjadi 3 jilid, buku ini pernah menjadi satu-satunya buku referensi dalam pengobatan Eropa. Buku ini memperkenalkan pengetahuan medis dari dunia Islam pada Abad Pertengahan, yang dipengaruhi oleh tradisi sebelumnya, termasuk pengobatan Yunani-Romawi, pengobatan Persia, dan pengobatan India. (Iranica 2011).

Buku ini menggambarkan kedokteran sebagai pengetahuan yang dapat digunakan bahkan oleh orang biasa dalam pendidikan kedokteran dan bimbingan pribadi. Ia membahas unsur-unsur yang berkaitan dengan kesehatan, humor, emosi, organ sederhana dan lengkap, fungsi dan keadaan, dan penyakit yang menyebabkan penyakit tersebut dapat berupa makanan, air, udara, kebiasaan, pekerjaan, aktivitas fisik dan mental, usia, jenis kelamin, dan faktor eksternal yang mempengaruhi tubuh. Ibnu Sina juga merupakan orang pertama yang berhasil menemukan sistem peredaran manusia, yang nantinya dikembangkan oleh seorang ilmuwan bernama Wiliam Harvey.[1]

 

2) Kitab Ash-Shifa’

            Kitab Ash-Shifa berisi berbagai macam bidang, diantaranya filsafat, logika, ilmu alam, fisika, dan matematika. Dalam buku ini, Ibnu Sina menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan alam, misalnya tentang pembentukan gunung, penyebab gempa bumi, salju, dan gletser.

Ibnu Sina juga menjelaskan keenam aspek dalam ilmu fisika yakni kosmologi, perubahan, aksi reaksi, psikologi, minerologi, dan botani. Ilmu logika yang dibahas tidak jauh berbeda dengan filsuf agung Yunani, Aristoteles yang mana Ibnu Sina memang terpengaruh olehnya dalam pandangan-pandangan filosofis. Ia menjelaskan sepuluh konsep yang menyerupai pandangan Aristoteles.[2]

 

3) Kitab An-Najat

            Buku An-Najat merupakan ringkasan dari buku “Ash-Shifa”, yang dibuat untuk orang-orang berpendidikan khusus yang ingin memahami dasar-dasar ilmu kebijaksanaan. Selain itu, buku tersebut membahas tentang materi psikologi Ibnu Sina (Sahlah, Laili 2015).

 

4) Kitab Asbab Huduts Al-Huruf

Kitab ini ditulis untuk membahas ilmu fonetis atau ilmu suara. Buku ini berisi beberapa bab yang di dalamnya membahas tentang pembentukan suara, huruf, membahas tentang tenggorokan, dan hal lainnya yang berkaitan dengan suara (Sahlah, Laili 2015).

 

5) Kitab Al-Isharat wa al-Tanbihat

            Kitab ini merupakan kitab yang membahas tentang pengetahuan Logika dan hikmah. Buku ini terdiri dari tiga jilid.[3]

 

Motivasi Ibnu Sina dalam melakukan Penelitian

            Ibnu Sina sejak kecil memang sudah terlihat kejeniusannya dalam berpikir. Kecerdasannya dan daya ingatnya, tak seorang pun dapat memungkiri itu dari diri Ibnu Sina. Ibnu Sina telah mencapai banyak sekali prestasi yang membuat para sejarawan dan ilmuwan terpukau melihat kecerdasannya. Ibnu Sina mulai belajar banyak hal Ketika masih kecil. beliau berguru ke banyak orang dengan berbagai latar belakang. Salah satunya beliau belajar aritmatika dari seorang pedagang dari India. Banyak buku berhasil beliau tulis. Jumlah buku yang beliau tulis kurang lebih sebanyak 276 buah. Beberapa karyanya disebar keseluruh dunia, bahkan dijadikan pedoman di beberapa universitas ternama dunia, khususnya dibidang kedokteran (Minews.id, 2020).

Begitu semangatnya seorang Ibnu Sina dalam mempelajari dan menulis kembali ilmu yang beliau dapat tidak terlepas dari bentuk rasa syukurnya kepada Allah SWT. Pada umurnya yang beranjak 16 tahun, Ibnu Sina remaja memulai untuk mempelajari ilmu kedokteran dan seringkali membantu pasien tanpa imbalan, bahkan seorang penguasa sekali pun. Pada usianya yang ke 18 tahun, Ibnu Sina dapat menyembuhkan penyakit Raja Bukhara Nuh bin Mansur dan dijadikan dokter pribadi raja. Sebagai hadiah atas keahliannya, Ibnu Sina mendapat keistimewaan untuk memanfaatkan perpustakaan Istana Samanid untuk menimba ilmu lebih banyak. Tentu saja hal ini membuat Ibnu Sina Bahagia, sebab beliau dapat melihat dan mempelajari banyak buku yang belum pernah ia liat sebelumnya. Hal ini juga tentu saja sesuai dengan harapan orang tua Ibnu Sina yang menginginkan anaknya untuk dapat bekerja dengan pekerjaan yang menuntut Ibnu Sina untuk terus belajar (Minews.id, 2020)

Berkat hadiah akses perpustakaan tersebut, Ibnu Sina mulai menuangkan pemikirannya melalui karya tulis ilmiah, buku keilmuan, risalah, sampai kitab ilmu. Semangat yang luar biasa dalam belajar dan memperdalam ilmu terlihat pada usia 21 tahun, Ibnu Sina telah berhasil menuangkan pikirannya ke dalam 240 tulisan yang membahas beberapa bidang keilmuan, seperti kedokteran, astronomi, matematika, fisika, musik, geometri, bahkan puisi (Admin. 2016).

Ibnu Sina mulai menulis buku-buku legendarisnya. Semakin bertambahnya usia, pengalaman bekerja Ibnu Sina terbilang banyak dan sibuk. Beliau pernah menjadi seorang dokter, menteri, dan aktif dikegiatan mengajar serta menulis. Di tengah kesibukan Ibnu Sina, beliau masih sempat untuk mengatur segala jadwal dan yang terpenting untuk menulis. Banyak kabar beredar bahwa Ibnu Sina dapat menulis 50 lembar per hari. Motivasi ibnu Sina dalam Melakukan penelitian yang membuahkan banyak karya tidak lain karena rasa tertariknya pada ilmu pengetahuan dan dorongan untuk membantu orang lain. Selain itu, motivasi beliau untuk menuangkan pemikirannya ke dalam bentuk karya adalah sebagai bentuk rasa syukurnya kepada Allah SWT. Ditambah lagi orang tua beliau yang sangat ingin beliau untuk terus belajar (Sasongko, 2019).

 

 Pengaruh Ibnu Sina di kalangan Barat

Ibnu Sina memiliki pengaruh yang kuat di Barat terutama sejak abad ke-12 yaitu pada masa Albert Yang Agung, Alexander Heles, dan Thomas Aquinas. Pada masa ini juga, karya-karyanya mulai diterjemahkan ke dalam lain, yaitu Latin. Di antara karyanya yang diterjemahkan adalah otobiografi beliau yang diriwayatkan oleh Al-Juzjaani, kitab Al-Shifa yang berisi logika dan fisika, serta pemikiran metafisikanya. Banyak dari terjemahannya itu dibuat di salah satu sekolah bernama Toledo. Lebih khusus lagi yaitu di bawah arahan dari Dominicus Gundissalvus, selain itu banyak juga karyanya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Joannes Hispalensis, atau Avenduth (Ibnu Dawud), yaitu seseorang yang terkenal sebagai penerjemah korpus Ibnu Sina (Nasr, 1997).

Bukunya al-Qanun fi al-Tibb (the Canon of Medicine) diterbitkan di Roma pada tahun 1953 dan kemudian namanya menjadi Precepts of Medicine saat mulai diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Karya-karya Ibnu Sina memang sangat terkenal pada masanya. Bahkan tidak sampai satu abad, buku itu telah dicetak ke dalam kurang lebih 15 bahasa. Dan mulai dari abad ke-17 hingga ke-19 buku-buku tersebut menjadi rujukan universitas-universitas di Eropa (Kusnanto, 2010). Sampai sekarang, bukunya (Al-Qanun fi al-tibb dan al-shifa) masih menjadi buku kedokteran yang tersimpan rapi di perpustakaan Birmingham, Inggris (Gozali, 2016).

Ibnu Sina dijuluki “Prince of Physicians”, fotonya banyak menghiasi dinding katedral di Eropa, dan Dante menghormatinya dengan menempatkan Ibnu Sina di antara ahli medis yang hebat, Hippocrates dan Galen. Pemikiran dan pandangan dari seorang Ibnu Sina, baik itu pandangan ilmiah ataupun filosofisnya, telah membawa pengaruh ke pusat-pusat pembelajaran di Eropa mulai dari abad ke-12 hingga seterusnya. Teorinya di bidang kedokteran sangat mempengaruhi wilayah Salerno dan Montplier, dan pemikiran filsafatnya itu mempengaruhi Paris dan Oxford. Pengaruh dari Ibnu Sina juga terlihat jelas dari tulisan William dari Auvergne dan Roger Bacon, yang mana sangat memuji Ibnu Sina lebih dari Averroes (Ibnu Rusyd) (Nasr, 1997). Pemikiran Metafisika dan teologi Thomas Aquinas pun sulit atau tidak akan dapat dimengerti tanpa pemahaman yang ia peroleh dari Ibnu Sina. Dalam karya beliau yang agung, yaitu Summa Teologica dan Summa Contra Gentiles pun sangat bisa dilihat adanya pengaruh Ibnu Sina di dalamnya. Kemudian dalam Albertus Magnus, Thomas Aquinas, di argumen ketiganya yaitu tentang bukti keberadaan Tuhan sebenarnya merupakan argumen milik Ibnu Sina. Pandangan dari para tokoh-tokoh seperti Robert Grosseteste juga sangat dipengaruhi oleh pemikiran ilmiah dan filosofis dari Ibnu Sina (Nasr, 1997).  Seorang guru besar di Pavia, Italia dalam karyanya mengutip Ibnu Sina lebih banyak dibanding ilmuwan-ilmuwan lain, yaitu tiga ribu kali. Sedangkan ilmuwan lain seperti Al-Razi dan Galen hanya kurang lebih seribu kali. Bahkan Hippocrates yang merupakan ilmuwan hebat hanya dikutip sekitar seratus kali (Dahlan M, 2018).

Prof. Gilson, bapak sejarawan filsafat pada abad pertengahan, dalam kajiannya membuktikan pengaruh Ibnu Sina pada abad ke-13, dan ia menjelaskan bagaimana pemikiran Ibnu Sina dapat berdampingan dengan pemikiran Kristen yang kemudian melahirkan “Agustinisme-Avicinian”. Pengaruh ini masih bisa dirasakan hingga abad ke-19.

Pemikiran para filsuf Islam seperti Ibnu Sina, Al-Gazali, Ibnu Rusyd, Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Bajah, dan Ibnu Thufail memiliki andil dalam perkembangan sejarah, termasuk di Barat yang pada saat itu masih berada pada era kegelapan dan menjadi salah satu penyebab munculnya Renaissance (Wendi, 2016). Gordon Leff menyatakan bahwa pada abad ke-12 dan 13 M ada perbedaan yang sangat tegas dalam intelektualitas antara negara yang mengisolasi diri dari dunia Islam dengan negara-negara yang menjalin hubungan dengan dunia  Islam. Dengan kata lain, bangsa Eropa khususnya Eropa Barat jika tetap diam dan tidak menjalin hubungan dengan dunia Islam, maka mereka akan tetap tertinggal, terisolasi kemampuan intelektualitasnya. Pada awal abad ke-9 dan 13 M, Sarjana dari Eropa seperti Konstantine dan Bath banyak yang melakukan perjalanan ke negeri-negeri Arab/Islam untuk mempelajari Ilmu pengetahuan, bahasa Arab, dan kebudayaan Arab. Seluruh pengetahuan yang dipelajarinya itu kemudian dibawa ke kampung halaman mereka dan menjadi sumber pembelajaran yang nantinya dikembangkan lagi hingga pada akhirnya ilmu pengetahuan Eropa mampu melampaui negara-negara Islam. Di masa ini pula banyak pelajar dari negara Italia, Spanyol, dan Perancis banyak menghadiri seminar-seminar yang diadakan oleh umat muslim tentang matematika, filsafat, kedokteran, kosmografi, dan ilmu pengetahuan lainnya (Akmal, 2013).**

DAFTAR PUSTAKA

Admin. 2016. Jejak Pendidikan . Agustus 18. Accessed Maret 23, 2021. http://www.jejakpendidikan.com/2016/08/karya-karya-ibnu-sina.html.

Akmal. 2013. “Menidurkan Sejarah, Membangunkan Ingatan: Menjejak Instrumen Islam Pada Ekonomi Moderen.” November 01: 36-54.

Anonim. n.d. digilib.uinsby.ac.id. Accessed Maret 23, 2021. http://digilib.uinsby.ac.id/1574/6/Bab%202.pdf.

Dahlan M, M. 2018. “Kontribusi Peradaban Islam Terhadap Peradaban Eropa.” Jurnal Rihlah XI (1): 1-12.

Fathoni, Rifai Shodiq. 2016. wawasansejarah.com. Juni 9. Accessed Maret 24, 2021. https://wawasansejarah.com/biografi-ibnu-sina/.

Gozali, Mukhtar. 2016. “Agama dan Filsafat Dalam Pemikiran Ibnu Sina.” Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam I: 22-36.

Iranica. 2011. Encyclopedia Iranica. December 15. Accessed March 23, 2021. https://iranicaonline.org/articles/avicenna-x.

Kusnanto. 2010. Peradaban Arab. Semarang: ALPRIN.

Minews.id. 2020. Ibnu Sina Selesaikan Semua Ilmu di Usia 18 Tahun, Kalo Kamu Udah Ngapain Aja? Accessed Maret 24, 2021. https://www.minews.id/kisah/ibnu-sina-selesaikan-semua-ilmu-di-usia-18-tahun-kalo-kamu-udah-ngapain-aja.

Nasr, Seyyed Hossein. 1997. Three Muslim Sages. New York: Caravan Books.

Nurdyansa. 2017. Biografiku.com. January 19. Accessed Maret 23, 2021. https://www.biografiku.com/biografi-ibnu-sina/.

Republika. 2016. Republika. May 30. Accessed March 23, 2021. https://www.republika.co.id/berita/o7zat710/mozaik-meneropong-supernova-dalam-karya-ibnu-sina.

Sahlah, Laili. 2015. “Peran Ibnu Sina dalam Pengembangan Sains Islam di Persia.” Sarjana Skripsi, Jakarta.

Sasongko, Agung. 2019. republika.co.id. Agustus 14. Accessed Maret 23, 2021. https://www.republika.co.id/berita/pw81c5313/mengenal-ibnu-sina-bapak-pengobatan-modern.

Wendi, Novrizal. 2016. “Pengaruh Peradaban Islam Terhadap Dunia Barat.” TASAMUH: JURNAL STUDI ISLAM 53-67. http://ejournal.stain.sorong.ac.id/indeks.php/tasamuh.

Wijayanti, Hasna. 2020. PORTAL-ILMU.COM. Agustus. Accessed Maret 26, 2021. https://www.portal-ilmu.com/2020/08/ibnu-sina.html.

**Paper ini diedt dari hasil penugasan kepada mahasiswa dalam mata kuliah Islam dan Ilmu Penetahuan Semester Genap Tahun Ajaran 2020/2021

 

[1] http://www.jejakpendidikan.com/2016/08/karya-karya-ibnu-sina.html. Dikutip pada Maret 23, 2021.

[2] https://www.republika.co.id/berita/o7zat710/mozaik-meneropong-supernova-dalam-karya-ibnu-sina. Dikutip pada Maret, 23 2021

[3] Taufik Abdullah, Ensiklopedi Tematis Dunia Islam : Pemikiran dan Peradaban, h. 197-198

Incoming search terms:

Recommended For You