IBNU AL HAYTHAM: BAPAK OPTIK MODERN YANG MULTI KEAHLIAN

alhaytam

Ibnu al-Haytham (wafat 1038/9 M) dikenal sebagai ilmuwan dan ahli matematika dalam sejarah Islam. Tulisan ini bertujuan untuk meninjau posisi al-Haytham di antara para ilmuan muslim melalui penyelidikan dan peninjauan lebih seksama terhadap sumber-sumber riwayat hidupnya dan karya-karyanya. Alhasil, meski Ibnu al Haytam adalah sosok yang luar biasa di bidang sains dan matematika, sebenarnya, Ibnu al-Haytam juga merupakan seorang filsuf muslim, bekerja di berbagai bidang ilmiah. Satu-satunya karya Al-Haytham yang banyak membahas aspek-aspek filsafat ternyata masih dapat diperoleh saat ini yaitu Kitāb Thamarah al-Ḥikmah, yang memperkuat bukti bahwa ia bukan saja seorang saintis dan ahli matematika tetapi juga seorang filsuf muslim.

Abū ‘Alī al-Ḥasan ibn al-Ḥasan Ibnu al Haytham atau yang lebih dikenal sebagai Ibn al-Haytam, atapun Alhazen di dunia Barat, merupakan salah satu dari beberapa saintis paling terkemuka yang dilahirkan dalam peradaban Islām.[1] Ibn al-Haytam adalah seorang ahli fisika yang menggunakan metoda saintifik yang menjadi landasan dalam setiap penelitian di dunia sains saat ini. Tidaklah mengejutkan jika sarjana terkemuka Robert Briffault menyatakan bahawa para sarjana Arab telah lama menggunakan kaedah-kaedah sains sebelum menjadi metoda yang dipakai di dunia modern saat ini.

 

BIOGRAFI IBNU AL-HAYTHAM

Abu Ali Muhammad al-Hasan bin al-Haytham, di Barat lebih dikenal dengan nama Alhazen. Ibnu Haytam lahir pada tahun 965 Masehi di Basrah, Irak. Beliau memulai pendidikan awalnya di Basrah sebelum diangkat menjadi pegawai pemerintah.[2] di tempat kelahirannya. Setelah bhberapa lama bekerja di pemerintahan, lantas beliau memilih untuk meletakkan jabatan tersebut. Sebab, ia mulai menyadari minat dan bakatnya sebagai ilmuwan, alih-alih sebagai pegawai birokrasi.  Haytam pergi ke Ahwaz, Mesir, dan Baghdad yang kala itu termasuk pusat intelektual dunia. Haytam mempelajari berbagai ilmu yang akhirnya beliau menghasilkan beberapa karya tulis yang luar biasa.

Kecintaannya kepada ilmu pengetahuan, telah membawanya berhijrah ke Mesir. Saat berhijrah ke Mesir, beliau diterima dengan tangan terbuka oleh Khalifah al-Hakim dari Dinasti Fathimiyah.[3] Sang Khalifah ingin agar al-Haytham membantunya dalam menyelesaikan proyek pembangunan bendungan di Sungai Nil serta menyalin buku-buku mengenai matematika dan falak (astronomi). Tujuannya adalah untuk mendapatkan uang cadangan dalam menempuh perjalanan menuju Universitas Al-Azhar.

Haytam telah menjadi seorang yang mahir dalam bidang sains, falak, matematika, geometri, pengobatan, dan falsafah. Ibnu Haitham merupakan orang pertama yang menemukan serta menulis data penting mengenai cahaya. Kabarnya, sekitar 200 buku sudah ditulisnya.[4] Sayangnya, tinggal sedikit karya Ibnu Haytham yang tersisa. Salah satu karya monumentalnya, yaitu Kitab al-Manadhir, pun tidak jelas keberadaannya.

Tulisannya mengenai cara kerja mata manusia, telah menjadi salah satu Referensi yang penting dalam bidang kajian sains di Barat. Teorinya mengenai pengobatan mata masih digunakan hingga saat ini di berbagai Universitas di seluruh dunia.

Hampir semua teori serta hasil penelitian Ibnu Haytham menginspirasi beberapa ahli sains Barat, seperti Boger, Bacon, dan Kepler yang sekarang dikenal sebagai pencipta mikroskop serta teleskop. Ia juga pernah menulis buku tentang evolusi yang sampai sekarang masih menjadi rujukan ilmuwan dunia. Buku karya Ibnu Haitham mengenai kosmologi pun sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin pada abad pertengahan, beliau meninggal di Qahirah tahun 1039 pada umur 74 tahun.

REKAM PENDIDIKAN IBNU AL HAYTAM

Abu Ali Muhammad al-Hasan bin al-Haytham, memulai pendidikan awalnya di kota kelahirannya di Basrah, Irak. Lalu kemudian beliau memilih merantau ke Ahwaz dan Baghdad yang pada saat itu merupakan pusat intelektual dunia. Dikota itu ia belajar berbagai macam ilmu. Lalu kemudian karena ilmu yang dimilikinya pula lah yang membawanya ke Mesir. Ibnu Haytam juga sempat mengenyam pendidikan di Universitas Al-Azhar. Setelah itu, secara otodidak ia mempelajari hingga menguasai beragam disiplin ilmu seperti ilmu falak, matematika, geometri, pengobatan, fisika, dan filsafat. Secara serius dia mengkaji dan mempelajari seluk-beluk ilmu optik.

KEAHLIAN UTAMA: AHLI FISIKA EKPERIMENTALIS

Sejarah mencatat salah satu peletak dasar ilmu fisika optik adalah sarjana Islam Ibnu Al Haytam atau yang dikenal di Barat dengan sebutan Alhazen, Avennathan atau Avenetan.[5] Ibnu Al Haytham juga merupakan pencetus metode eksperimen. Ibnu Al Haytam merupakan seorang ahli fisika eksperimentalis pada abad ke-11, salah satu orang yang berjasa dalam perkembangan teknologi kamera. Buku yang merupakan karya beliau tentang teori optik, al-Manadir (book of optics), khususnya dalam teori pembiasan, diadopsi oleh Snellius dalam bentuk yang lebih matematis. Hal tersebut menyebabkan tidak menutup kemungkinan, bahwa teori Newton juga dipengaruhi oleh al-Haytham, sebab pada Abad Pertengahan Eropa, teori optiknya sudah sangat dikenal.[6]

Karya-karya beliau banyak dikutip ilmuwan Eropa. Selama abad ke-16 sampai 17, Isaac Newton dan Galileo Galilei, menggabungkan teori al-Haytham dengan temuan mereka. Juga teori konvergensi cahaya tentang cahaya putih terdiri dari beragam warna cahaya yang ditemukan oleh Newton, juga telah diungkap oleh al-Haytham abad ke-11 dan muridnya Kamal ad-Din abad ke-14. Al-Haytham dikenal juga sebagai pembuat perangkat yang disebut sebagai Camera Obscura atau “pinhole camera”. Kata “kamera” sendiri, konon berasal dari kata “qamara“, yang bermaksud “yang diterangi”. Kamera al-Haytam memang berbentuk bilik gelap yang diterangi berkas cahaya dari lubang di salah satu sisinya. Mengenai alat optik, ilmuwan Inggris, Roger Bacon (1292) menyederhanakan bentuk hasil kerja al-Haytham, tentang kegunaan lensa kaca untuk membantu penglihatan, dan pada waktu bersamaan kacamata dibuat dan digunakan di Cina dan Eropa.[7]

MULTI KEAHLIAN IBNU AL-HAYTHAM

Selain kepiawaiannya dalam bidang ilmu optik, Ibnu Al Haytham juga ahli dalam mempelajari dan meneliti bidang keilmuan lainnya. Sehingga menghasilkan banyak sekali teori-teori ilmiah yang telah ditemukan oleh Ibnu Al Haytham, diantaranya:

  1. Bidang Matematika

Al-Hasan bin Al-Haytham mahir dalam ilmu matematika dan menerapkan ilmu ini pada ilmu fisika dan astronomi. Kedua ilmu ini memiliki kolerasi yang kuat dengan matematika, dan bagi Al-Haytham, matematika menjadi sandaran dalam mempelajari dan mengembangkan fisika dan astronomi. Hal ini menjadi fakta yang membuktikan bahwa Ibnu Al Haytham adalah salah satu pelopor ilmu serta berada di barisan terdepan bersama para ilmuwan lain yang menonjol dalam bidang fisika dan matematika secara bersamaan. Penemuan Ibnu Al Haytham dalam bidang matematika yaitu sebagai berikut:

  1. Ibnu Al Haytham membuat tesis dalam ilmu hitung, aljabar, dan trigonometri serta dua geometri yang sama.
  2. Ibnu Al Haytham membuat kesimpulan tentang hukum yang benar mengenai luas bentuk bola, piramid, silender, potongan, dan potongan melingkar.
  3. Ibnu Al Haytham mempraktekkan ilmunya dalam bidang optik kepada ilmu aljabar.
  4. Para ilmuwan Muslim, diantara Ibnu Al Haytham menerapkan ilmu geometri pada logika dan menyebutnya “logika matematika Geometri”.[8]
  5. Bidang Astronomi

Setelah menemukan kesuksesan di bidang matematika, Ibnu Al Haytham memiliki kelebihan lain dalam bidang astronomi. Ia telah menulis 17 buku mengenai ilmu astronomi dan dari buku-buku tersebut yang sampai kepada kita hanya terdapat 12 buku. Berikut ini merupakan beberapa kajian mengenai ilmu astronomi Ibnu Al Haytham, di antaranya :

  1. Ibnu Al Haytham berkesimpulan bahwa bulan bukanlah benda yang memancarkan sinar, melainkan mendapatkan sinar dari matahari dan memantulkannya ke bumi.
  2. Ibnu Al Haytham membuat tabel-tabel yang akurat tentang berbagai masalah dalam ilmu astronomi.
  3. Ibnu Al Haytham mencoba menentukan ketidaktebalan lapisan atmosfer bumi dengan menggunakan hasil penelitiannya terhadap pembiasan cahaya antara lapisan-lapisan udara yang berbeda-beda dan ukuran-ukuran cahaya yang di catatnya ketika matahari terbit dan tenggelam.
  4. Ibnu Al Haytham menjelaskan fenomena munculnya bulan sabit. Demikian juga dengan munculnya fenomena fajar, sinar, lingkaran cahaya, pelangi, gerhana matahari, dan gerhana bulan, dan beliau menjelaskan sebab-sebab terjadinya berdasarkan penelitiannya di bidang optik.
  5. Ibnu Al Haytham mempelajari pengaruh pembiasan cahaya ketika sampai ke atmosfer bumi, sehingga ia mengetahui jarak antara dua bintang. Dia menjelaskan bahwa ukuran dan jarak yang tampak semakin kecil bagi kita pada hakikatnya disebabkan oleh pengaruh pembiasan.
  6. Ibnu Al Haytam menjelaskan kepada kita mengapa bulan dan matahari kadang-kadang nampak bersamaan di langit atau berdekatan, bahkan nampak semakin besar ketika berada di tengah-tengah langit. Ini sebenarnya adalah masalah yang terpisah dari penelitian pembiasan, dan penafsiran Ibnu Haytham dalam hal ini merupakan penafsiran yang dapat diterima hingga sekarang.
  7. Ibnu Al Haytham berhasil menentukan ketinggian kutub dengan akurat, dan menjelaskannya di dalam bukunya “Risalah Irtifa‟ Al-Qutub”. Seorang astronom Ridha Madwar, dalam kajiannya tentang astronomi, Ibnu Haytam memberikan penjelaskan bahwa “penemuan Ibnu Hayhtam dalam hal ini sangat sulit dan memerlukan cara meneropong bintang dan menghitung yang akurat. Salah satunya adalah dengan menggunakan ketinggian kutub yang sesuai”.[9]
  1. Bidang Filsafat

Ibnu Al Haytham banyak menulis tentang filsafat, logika, metafisika, dan juga permasalahan yang terkait dengan keagamaan. Dalam penulisan bidang filsafatnya, Ibnu Al Haytham sangat bertumpu pada aspek kebenaran dalam masalah yang menjadi sengketa. Ia juga berkeyakinan bahwa kebenaran hanyalah satu. Oleh karena itu, semua klaim tentang kebenaran wajar diragukan dalam menilai semua pandangan yang ada. Menurut Ibnu Al Haytham, falsafat tidak dapat dipisahkan dari matematika, sains, dan ketuhanan. Harus menguasai ketiga bidang dan cabang ilmu tersebut dan untuk menguasainya, seseorang perlu menggunakan masa mudanya dengan sepenuhnya. Dengan bertambahnya usia, kekuatan fisik dan mental akan turut mengalami penurunan.

TEMUAN UTAMA

Ibn Al Haytham membuat kemajuan signifikan dalam bidang optik, ilmu fisika, dan metode ilmiah yang mempengaruhi perkembangan ilmu pengetahuan selama lebih dari lima ratus tahun setelah kematiannya. Penelitian tentang cahaya yang dilakukan oleh ibn Hayhtam secara detail dalam kitab Al-Manazir yang disertai dengan penjelasan ilmiah, telah memberikan inspirasi pada ilmuan barat seperti Johanes Kepler (1571-1630M), yang berhasil menciptakan teleskop dan mikroskop.

Dalam karyanya yang popular, Al-Manazir ibnu al-Haytham menjelaskan teori optic melalui penelitian sistematis tentang penglihatan manusia. Sistem penglihatan manusia oleh Ibn Haytham digambarkan secara rinci terdiri dari berbagai unsur susunan yang membentuk konstruksi tertentu sehingga dapat menerima masuknya cahaya dengan baik, dari konstruksi inilah manusia dapat melihat alam sekitarnya melalui perantara cahaya yang diproses oleh konstruksi susunan mata tersebut.

Dalam kitabnya yaitu al-Manadzir Ibnu Haytham meluruskan teori yang diungkapkan oleh Bathlemus, bahwa “penglihatan bisa sempurna dengan sarana cahaya yang memantul dari mata ke benda yang terlihat”[10]. Pendapat ini kemudian dibenarkan (didukung) oleh ilmuwan lainnya. Kemudian beliau menjelaskan bahwa penglihatan bisa sempurna dengan sarana cahaya yang memantul dari benda yang dilihat, dari arah mata yang melihat. Serangkaian penemuan yang diungkap Ibnu Haytham menjelaskan bahwa pancaran sinar itu menyebar melalui garis lurus sejajar dengan apa yang terkandung di tengah-tengah dua jenis.

Pada tahun 1572, karya ibnu Haytham ini diterjemahkan ke dalam Bahasa Latin dengan judul Opticae Thesaurus.[11] Ibnu Haytham tercatat sebagai orang pertama yang menggambarkan seluruh detail bagian indra penglihatan manusia. Beliau memberikan penjelasan yang ilmiah tentang bagaimana proses manusia bisa melihat. Melalui penelitian ekstensif tentang optik, beliau telah dianggap sebagai bapak optik modern.

 

KARYA YANG DIHASILKAN

Ibnu Haytham membuktikan bahwa beliau bergairah mencari dan mendalami ilmu pengetahuan pada usia mudanya. Beliau adalah seorang yang produktif, atas keproduktifannya beliau menulis banyak buku dan makalah. Ada sekitar 200 buku yang beliau tulis[12]. Yang mana 96 diantaranya karya ilmiah yang diketahui dan sekitar 50 di antaranya telah bertahan hingga saat ini. Hampir setengah dari karyanya yang masih bisa diakss adalah tentang matematika, 23 diantaranya tentang astronomi, dan 14 di antaranya tentang optik, dengan beberapa bidang sains lainnya.

Beliau sangat menyadari bahwa pengetahuan dapat menyebabkan lebih menghargai kebenaran mutlak dan pemilik dari kebenaran yaitu Allah SWT.

Karya-karya Ibnu Al Haytam di berbagai bidang, di antaranya:

  1. Dalam bidang Optic :
  2. Fi al-Minasit (kamus optik)
  3. Risalah Fi Al-Ain Wa Al-Abshar (tentang sebuah wujud dalam pandangan)
  4. Risalah Fi Al-Maraya Al-Muhriqah Bi Ad-Dawa’ir (tentang pencerminan yang membakar)
  5. Risalah Fi In’ithaf Adh-Dhau (korolasi peletakan).
  6. Risalah Fi Al-Maraya Al-Muhriqah Bi Al-Quthu (karya tentang cermin-cermin parabolik).
  7. Maqalah fi Daw al-Qamar (cahaya, warna dan gerakan langit).
  8. Kitab Fi Al-Halah Wa Qaus Qazah (tentang keadaan pembusuran).
  9. Zawahir al-hasaq (gejala senja).
  10. Dalam bidang Astronomi
  11. At-Tanbih Ala Ma Fi Ar-Rashdi Min Al-Ghalath (peringatan dalam

memperkirakan atau mengkondisikan sesuatu yang salah)

  1. Irtifa’ Al-Kawakib (pengengkatan bintang-bintang)
  2. Maqalah Fi Ab’ad Al-Ajram As-Samawiyyah wa Iqdar I’zhamiha wa Ghairiha (tentang jarak jauhnya tubuh manusia dengan langit dan perkiraan dengan benda yang lain)
  3. Kitab Fi Hai’ati Al-Alam (tentang pergerakan alam)
  4. Risalah Fi Asy-Syafaq (tentang cahaya matahari di waktu sore)
  5. Dalam bidang Matematika
  6. Al-Jami’ Fi Ushul Al-Hisab (mengandung teori-teori ilmu matematik dan metametik penganalisaannya).
  7. Ilal Al-Hisab Al-Hindi
  8. Ta’liq Ala Ilm Al-Jabar
  9. Al-Mukhtashar Fi Ilm Al-Handasah
  10. Tarbi’ Ad-Da’irah
  11. Al-Asykal Al-Hilaliyah
  12. Filsafat

Bagi Ibnu Al Haytham falsafah, tidak boleh dipisahkan dari matematika, sains, dan ketuhanan. Ketiga bidang dan cabang ilmu ini harus dikuasai, dan untuk menguasainya seseorang harus memaksimalkan masa mudanya untuk mempelajarinya dengan sepenuhnya. Apabila umur semakin meningkat, kekuatan fisik dan mental akan turut mengalami kemerosotan.[13]

Dalam filsafat, Ibnu al-Haytham dianggap sebagai pelopor fenomenologi. Dia mengartikulasikan hubungan antara dunia fisik dan dunia yang dapat diamati dan intuisi, psikologi dan fungsi mental. Teorinya tentang pengetahuan dan persepsi, yang menghubungkan domain sains dan agama, mengarah pada keberadaan filosophy berdasarkan pengamatan langsung.

MOTIVASI